Ilmu dan Pembelaan: Pembelaan Kepada Petani

Bogor 25/5/2016. Pada hari Selasa, 24 Mei 2015 kemarin, Pusat Pengkajian Perencanaan dan Pengembangan Wilayah (P4W) mengadakan sebuah acara yang bertajuk “Anak Muda Mencecap Kopi Dunia“. Acara tersebut diselenggarakan di Institute Pertanian Bogor. Dalam kegiatan tersebut diselenggarakan pula pemutaran film Aroma of Heaven yang disutradarai oleh Budi Kurniawan. Hal yang cukup menarik pula dalam kegiatan tersebut adalah pada sesi Monolog Politik Pertanian, yang disampaikan oleh Prof. Hariadi Kartodihardjo, yang akrab dipanggil dengan sapaan, Pak Haka. Topik yang disampaikan oleh Pak Haka adalah, Ilmu dan Pembelaan: Pembelaan Kepada Petani.

Di bawah ini adalah transkrip rekaman video dari monolog politik pertanian yang disampaikan oleh Pak Haka.

Terkait dengan politik. Karena bahasa reflesinya ke arah situ. Sesungguhnya, terutama bagi teman-teman mahasiswa. Politik itu bisa sederhana sekali, untuk membuat pertanyaan. Jadi seluruh rangkaian film tadi, termasuk jika kita melihat orang mencicipi kopi dan seterusnya.

Sesungguhnya dari awal sampai akhir “Siapa yang Diuntungkan“. Kita sering sekolah tinggi-tinggi dan segala macamnya itu, lupa pada satu pertanyaan.

Pertama: “Manfaatnya Dirasakan Oleh Siapa?” Jadi apakah itu belajar menanam, memupuk, mengolah kopi dan seterusnya. Maka pertanyaan itu harus bisa dijawab dan kepastian dari hal yang kita lihat tadi itu akan berjangka panjang jika manfaatnya berada pada petani yang menanam kopi itu.

Kedua: dari Mas Sutradara film tadi, itu ada pernyataan bagus. Jadi sesungguhnya film ini bukan hanya persoalan budidaya dan seterusnya. Tetapi ini adalah suatu kondisi yang kemudian dia bertanya, “Apakah 20 tahun lagi akan seperti itu?

Itu juga sebetulnya terkait dengan pertanyaan pertama. “Itu akan terjadi ketika petani-petani tadi itu memenangkan sebuah rebutan sebetulnya terkait dengan pengaruh dan penguasaan lahannya.

Jadi tadi, Prof. Amo (Endriatmo Sutarto), benar sekali sebetulnya, IPB segera mempunyai Pusat Studi Agraria, itu memastikan bagaimana keberlanjutan atau sustainability dari apa yang kita lihat tadi.

Dan yang terakhir, saya juga mensitir kalimat Bapak (Dr. Ernan Rustiadi), “Ini sebenarnya adalah istilahnya itu semacam pertemuan, antara kita yang melihat dengan petani kopi yang selama ini dalam pergaulan kopi dan segala macamnya, kita tidak pernah tahu itu.”

Kedua, semua yang kita ceritakan mengenai kopi itu sebagainya, disebut sebagai hiper-reality, jadi sesuatu yang sebenarnya bukan kenyataan. Yang dikonstruksikan sehingga yang kita kenal adalah merek-merek dagang. Oleh karena itu, terutama mahasiswa untuk menjawab pertanyaan kedua tadi, “Apakah 20 tahun lagi masih ada atau tidak? Itu sangat tergantung bukan karena ilmu, tetapi kekuatan pembelaan. Jadi jika ilmu tanpa pembelaan, itu omong kosong.”

Itulah yang nanti dipertahankan untuk memastikan bagaimana kopi, petani-petani pembudayanya bisa bertahan. Kalau bisa tidak hanya 20 tahun, tetapi bisa selama-lamanya.

Video lengkap dari sumber transkrip di atas bisa dilihat pada link di bawah ini:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

eight − one =