Siaran Pers: Merayakan dan Mensyukuri Perjuangan

Perempuan pejuang adalah mereka yang berjuang demi “tanah air”nya dimana tiap-tiap tanah air selalu ada muatan emosi dan identifikasi diri pada suatu tempat kelahiran. Tanah air membawa kita pada urusan hidup dan mati bisa bertaruh nyawa kita memperjuangkan tanah air kita. Tanah air selalu punya panggilan, tak ada yang memiliki panggilan sekuat tanah air, seperti ikatan dengan tali pusar, ikatan tanah kelahiran, tak tergantikan.

Perempuan Pejuang adalah mereka yang tergerak hatinya dan sungguh-sungguh menguat dan terefelsikan dalam tindakan nyata dalam penyelamatan dan pemulihan Lingkungan. Ada beribu pejuang lingkungan yang hening dan tidak terlihat, sehingga perempuan pejuang seperti tiada. Jambore, Website dan Film adalah sebuah rangkaian dokumentasi yang bertutur atas apa yang telah dilakukan oleh para perempuan pejuang tanah air tersebut yang layak untuk menjadi titik awal sebuah gerakan perempuan di Indonesia.

Jambore Perempuan Pejuang Tanah Air merupakan ruang perjumpaan untuk merayakan, mensyukuri perjalanan, ruang belajar dan bertukar pengetahuan antar perempuan dari berbagai latar belakang, termasuk ibu rumah tangga, petani, wirausaha, kepala dusun, penulis, pembuat film, pejabat pemerintah, dan lainnya. Jambore bertujuan : (1) Menyediakan kesempatan bertukar cerita pengalaman menghadapi krisis sosial ekologi di kampung, baik lewat kesiksian, gambar-gambar dan narasi-narasi; (2) Menyediakan pembelajaran, cerita-cerita, dan kesaksian pengalaman dari para perempuan kampung, dan perempuan peserta program Beasiswa Studi Agraria & Pemberdayaan Perempuan (SAPP) dan (3) Menyediakan tauladan-tauladan yang menginspirasi dalam pengelolaan pertanian halaman, pangan mandiri, produk herbal, kerajinan, dan partisipasi perempuan pada pembangunan desa.

Jambore akan dilaksanakan pada 14 – 16 Juli 2017 oleh Sayogya Institute dan Pesantren Ath – Thariq di Pesantren Ath-Thariq Garut Jabar. Untuk kegiatan dua hari pertama peserta terbatas untuk penerima beasiswa SAPP, narasumber, perwakilan perempuan dari desa-desa di Kabupaten Aceh Utara, Aceh Selatan, Ogan Komering Ilir (OKI), Tojo Una-una, Donggala, Sigi, Palu, Melawi, Kapuas Hulu, Kutai Kertanegara, Bulungan, Maluku Utara, Tabanan Bali, Bogor, Garut, Flores, Timor Tengah Selatan, Pati, kota Samarinda dan Jakarta. Sedangkan Jambore hari ketiga adalah (1) Peserta Jambore hari pertama, (2) Organisasi Non Pemerintah dan penggiat yang bekerja pada isu-isu kekayaan alam, HAM dan perempuan, (3) Utusan Badan-badan pemerintah dan perwakilan Badan Usaha pendukung ekonomi kerakyatan serta wakil media. Total peserta adalah ……

“Jambore merupakan ruang untuk saling menginspirasi, menguatkan dan bekerjasama dalam rangka menemukan cara belajar dan bekerja yang baru bahkan dengan pengakuan atas kekurangan dan kekuatan sebagai pelaku utama perjuangan tanah air, ungkap Mama Aletta Baun tokoh pejuang tanah air dari Mollo.

Eko Cahyono, Direktur Sajogyo Institute menyampaikan berharap Jambore ini bisa terlaksana dengan baik dan menjadi ruang bertukar pengetahuan bagi perempuan untuk tampil memimpin penyelamatan dan pemulihan tanah air.

Ada berbagai informasi yang bertutur tentang berbagai kegiatan Jambore beserta tema-temanya, diantaranya adalah buku Harian Jambore, buku catatan ini didesain dengan benang dan bukit-bukit, karena terinspirasi oleh perempuan yang berjuang menyelamatkan bukit batu, dimana menenun menjadi filosofi perjuangan, website yang berisi publikasi dai berbagai tema, buku serta film.

“Semua kami persembahkan buat perempuan pejuang tanah air, demikian ungkap Siti Maimunah, Peneliti, Koordinator Program Beasiswa SAPP Sayogya Institute.
Kontak Media dan Media Publikasi Perempuan Pejuang :
Mai : +62811920462
Vony : + 621382220134

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

two × 4 =