Kegembiraan Merayakan Perjuangan Tanah Air

Sajogyo Institute | Garut – Suasana di Pesantren Ath-Thaariq pagi ini tampak berbeda. Para perempuan dari berbagai wilayah Tanah Air berkumpul. Mereka adalah para pejuang tanah air yang datang dari pulau Jawa, Sumatera, Kalimantan, Nusa Tenggara Timur untuk menghadiri Jambore Perempuan Pejuang Tanah Air yang berlangsung pada 14-16 Juli 2017 di Pesantren Ekologi Ath-Thariq di Garut, Jawa Barat.

Alunan shalawat terdengar merdu dari seruling dan ngarinding mengawali acara pagi Ini oleh Kelompok Musik Ujlah lalu dilanjutkan seluruh peserta Jambore menyanyikan lagu Indonesia Raya dengan tiga stanza.

Menurut Pimpinan Pesantren Ekologi Ath-Thariq Kyai Ibang Lukmanurdin sangat mendukung penyelenggaraan Jambore ini terpusat Ath-Thariq. Pesantren ini terbuka sebagai tempat belajar, karena kami pun belajar, menghormati, dan melayani bumi lewat merawat benih. Dia menegaskan, bumi Adalah ibu. Dan ada 3 hal yang tidak boleh dijual-belikan dan harganya haram, yaitu air, hutan, dan tambang. Apapun kondisi yang terjadi karena saat belajar tujuannya dunia yang harus mendapatkan keuntungan sehingga selalu membuat kerusakan di muka bumi.

“Jadi malapetaka agraria adalah malapetaka Ibu. Agama memiliki moral dan budi untuk menjaga bumi. Pesantren Ini hanya upaya kecil untuk menjaga dan melayani Ibu, yaitu bumi melalui benih yang didudukkan sebagai objek,” jelas Kyai Ibang.

Dalam kesempatan tersebut, Koordinator Program Jambore Perempuan Pejuang Tanah Air, Siti Maimunah, acara Ini diawali dari program belajar, yaitu Beasiswa Studi Agraria dari Sajogyo Institute pada 1.5 tahun lalu. Anak-anak muda ini belajar bersama dengan datang ke kampung-kampung belajar pada perempuan -perempuan di kampung. Perempuan – perempuan inilah pejuang sesungguhnya. Jambore ini sebagai ruang bertemu, belajar dan merayakan perjuangan perempuan tanah air.

“Melalui program belajar inilah kami menemukan ada Ibu pejuang yang tampil di depan, memimpin, dan mampu mengorganisir. Kenyataan, perempuan itu bisa memimpin namun harus diajak bicara, apa yang terjadi, bagaimana hambatan mereka, dan harus dinampakkan agar bisa menjadi tauladan. Mengapa perempuan memimpin? karena perempuan yang paling dekat berhubungan dengan air, dengan alam,” jelas Maimunah yang akrab disapa Mai Jebing. Sehingga kalau semakin banyak perempuan pejuang maka makin banyak yang dipulihkan.

Saat ini, Sajogyo memberikan program beasiswa kepada perempuan untuk belajar kepada Ibu-Ibu di kampung di 13 desa di Aceh, Sumatera Selatan, Jawa Barat, Kalimantan Timur dan Barat, Sulawesi Tengah, dan Nusa Tenggara Timur.

Eko Cahyono M. Si, selaku Direktur Sajogyo Institute memberikan sambutan dalam acara Jambore

Direktur Sajogyo Institute, Eko Cahyono menegaskan tidak mungkin menjaga lingkungan, tanah, air, dan sumber daya alam tanpa melibatkan perempuan. Peran perempuan inilah yang sudah digaungkan sejak era Orde Baru oleh Profesor Pujiwati – istri Profesor Sajogyo pendiri Sayogyo Institute.

Noer Fauzi Rahman, Peneliti Sajogyo Institute menambahkan, bahwa konsep tanah air sudah dikenal sejak dulu, salah satunya melalui lagu “Tanah Air” karangan Ibu Sud, yang dikaitkan dengan kondisi Indonesia saat ini. Dahulu wilayah rakyat sangat luas, tapi sekarang wilayah hidup rakyat makin sempit. Oleh karena itu, perempuan Jambore ini sebagai upaya pengingat kepada para pejuang agraria sekaligus dikuatkan upaya menyelamatkan tanahnya.

“Kita berkumpul di sini saling menguatkan dan belajar tata caranya. Belajar tentang sumber makanan agar dipelihara. Ada rasa senasib, seperjuangan dan satu tujuan. tentunya, berjuang dengan gembira. selamat memperjuangkan Tanah Air,” tegasnya.

Tak lama, terdengar bunyi kentongan bersahut-sahutan dari para Santi Pesantren Ath-Thariq. Berbunyian dari bambu inilah menandai dimulainya Jambore Perempuan Pejuang Tanah Air. Selamat menjaga Tanah Air. (slm – hnp)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

thirteen − 7 =