Seri Diskusi Trayektori Kapital dan Ragam Konsekuensinya: Jaringan Rantai Kapitalisme dan Eksploitasi Buruh

SERI DISKUSI TRAYEKTORI KAPITAL DAN RAGAM KONSEKUENSINYA:
JARINGAN RANTAI KAPITALISME DAN EKSPLOITASI BURUH

Pada tanggal 9 Oktober 2018, Sajogyo Institute menyelenggarakan dua seri diskusi: (1) dengan topik “Rantai Kapitalisme Global” yang dipantik oleh Bonnie Setiawan dari Resistance and Alternatives to Globalization (RAG); dan (2) topik “Industrialisasi dan Eksploitasi Buruh” yang dipantik oleh Syarif Arifin dari Lembaga Informasi Perburuhan Sedane (LIPS). Dua seri diskusi ini merupakan rangkaian diskusi awal yang rencananya akan terus digulirkan oleh Sajogyo Institute untuk memahami lebih utuh tentang trayektori kapital dan ragam konsekuensinya di Asia, khususnya di Indonesia.

Narasumber diskusi topik pertama, Bonnie Setiawan, membahas perkembangan kapitalisme global dari era konglomerasi yang bercorak industri sederhana, menuju era perdagangan abad 21 yang bercorak jaringan rantai industri yang sangat kompleks. Kalau konglomerasi ditandai dengan penguasaan perusahaan raksasa terhadap semua rantai pasokan produksinya, maka jaringan rantai kapitalisme global yang semakin menguat di awal abad 21 ditandai dengan kompleksitas rantai pasokan produksi oleh subkontraktor-subkontraktor di berbagai negara, yang terfragmentasi, berlapis-lapis, tetapi tetap terintegrasi. “Kapitalisme global berupaya menjamah daerah-daerah yang sebelumnya belum terjamah untuk dikonsolidasi .. demi memaksimalkan profit,” ungkap Bonnie saat menjadi narasumber di Sajogyo Institute (9/10/2018).

Setelah diskusi topik pertama berakhir, peserta diskusi beristirahat sejenak, lalu dilanjutkan dengan diskusi topik kedua. Narasumber diskusi topik kedua, Syarif Arifin, menjelaskan tentang pengembangan kawasan industri dan pola-pola eksploitasi buruh di Bekasi. Diskusi ini diawali dengan menonton video lagu Iwan Fals yang berjudul “Ujung Aspal Pondok Gede”. Bekasi merupakan kawasan strategis (keberadaan sumber aliran air dan tenaga kerja terampil dan murah) untuk dikembangkan menjadi zona ekonomi internasional; di kawasan banyak sub-kontraktor-subkontraktor yang memasok bagian-bagian dari produk bertaraf internasional. Namun tragisnya, buruh-buruh pabrik di kawasan ini mengalami ragam pola eksploitasi yang cukup parah, seperti rendahnya upah, mahalnya sewa tempat tinggal, ketidakpastian kerja buruh kontrak, hingga pelecehan terhadap buruh perempuan. “Buruh di sana itu punya target produksi, di jam istrirahat pun tetap negerjain buat ngejar target, bahkan ada yang sampe anak-anaknya terlibat ngerjain karena tingginya target produksi dan terlalu murah upahnya,” ujar  Syarif Arifin saat menjadi narasumber di Sajogyo Institute (9/10/2018).

Dua sesi diskusi ini mengawali rencana Sajogyo Institute untuk menggulirkan kajian tentang trayektori kapital, pengembangan infrastruktur dan koridor ekonomi, serta ragam konsekuensinya di tingkat global, nasional dan lokal. Pengguliran kajian tentang trayektori kapital ini bertujuan mengajak berbagai kalangan, seperti peneliti, akademisi, aktivis sosial, pelajar, dan sebagainya, untuk terlibat bersama-sama memahami arah pengembangan ekonomi-politik dan ragam dampaknya, serta menemukan dan mengembangkan pola-pola kerja alternatif untuk mencegah ketimpangan sosial atau kian terpuruknya kondisi masyarakat kelas bawah. Jadi, silakan ditunggu seri-seri diskusi berikutnya tentang trayektori kapital dan ragam konsekuensinya di Sajogyo Institute!

 

 

 

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

4 × 3 =