Menggali Kembali Pemikiran Sajogyo dan Pudjiwati Sajogyo

“Biarlah, apa yang saya lakukak selama ini, diambil alih generasi muda” – Prof. Sajogyo

Kamis (29/8) lalu, Sajogyo Institute, Departemen SKPM FEMA-IPB dan PSA-IPB, mengadakan Sajogyo and Pudjiwati Sajogyo Lecture 2019 (SPSL 2019). Lecture tersebut diadakan di Ruang Rabuan (R. 414), Lantai 4, Gedung Departemen SKPM FEMA-IPB.

SPSL 2019 diadakan sebagai bentuk mengenang kembali Sajogyo dan Pudjiwati Sajogyo. Sepanjang hayatnya, Sajogyo dan Pudjiwati Sajogyo mencurahkan tenaga dan pikirannya dalam membuka jalan, mengentaskan masalah kemiskinan di pedesaan, terutama ‘yang termiskin di antara kaum miskin’.

Dua Lecturer, Prof. Benjamin White dan Prof. Keppi Sukesi, membahas masing-masing pemikiran Sajogyo dan Pudjiwati Sajogyo.

“Meskipun saya mengenal Prof. Sajogyo selama sekitar 40 tahun, sejak perkenalan pertama sampai pertemuan terakhir beberapa bulan sebelum beliau meninggal, bagi saya Professor Sajogyo masih tetap merupakan sosok yang misterius”, kata Ben White, sapaan akrabnya.

‘Kemisteriusan’ Sajogyo beralasan. Bagi Ben White ada beberapa hal yang membuat Sajogyo misterius. Perihal latar belakang akademiknya. Sebagai seorang Guru Besar Sosiologi Pedesaan, “tetapi sebenarnya latar belakan akademiknya hanya sedikit mengandalkan kuliah sosiologi”. Bagi Ben, “He was a sociologist by nature, not by training”.

Ben menyusun kerangka pembicaraannya pada tiga hal, seperti sifat inklusif, sikap kritis dan sikap peduli dan prihatin. Tiga kerangka sifat dan sikap itu diejawantahkan dari banyak gagasan-gagasan dan kritik-kritik yang hingga kini masih membekas.

Seperti sikap Sajogyo selama menjadi Rektor IPB (1964-1965), membuka ruang seluas mungkin bagi perdebatan ilmiah dan gagasan, tidak peduli ia dari manapun. “tokoh partai politik manapun boleh diundang ke kampus asalkan punya perhatian serius terhadap masalah-masalah pertanian dan nasib petani dan buruh tani.”

Sikap kritisnya terhadap pemikiran Clifford Geertz begitu sengit mengingat konsep ‘Involusi Pertanian’. Tidak tanggung-tanggung, Sajogyo menyebut teori Involusi itu ‘model obat nyamuk’. “Walaupun Geertz menggambarkan model “involusi” dengan bahasa yang berbunga-bunga dan mengesankan, argumennya sama sekali tidak diperkuat dengan data makro ataupun mikro”, kata Ben.

Sedang sikap kepedulian dan keprihatinannya, sebagai seorang Sosiolog Pedesaan, peduli dan prihatin adalah core sekaligus konsekuensi dari pendalaman keilmuannya. Hal ini tercermin dari sikapnya tetap menyuarakan pentingnya menilik penduduk termiskin dari yang miskin di pedesaan dan memajukan kembali Reforma Agraria dengan melaksanakan kembali amanat UU Pokok Agraria dan UU Pengaturan Bagi Hasil 1960.

“Mereka yang menentang gagasan landreform menuduh pendukungnya komunis dan membuat topiknya tabu, bahkan di beberapa daerah sampai mengambil kembali tanah-tanah yang telah redistirbusikan secara sah”, tegas Ben, mengulangi perkataan Sajogyo pada 1970.

 

Prof. Keppi Sukesi memberikan kuliah membedah pemikiran Pudjiwati Sajogyo. Beliau mengenang semasa menjadi mahasiswi S-2 di IPB yang saat itu dibimbing oleh Pudjiwati Sajogyo. “Bisa dibilang, saya merupakan salah satu mahasiswi terakhir yang dibimbing oleh Prof. Pudjiwati,” kenangnya.

Keppi mengemukakan Pudjiwati yang banyak mencurahkan hidupnya terhadap nasib Perempuan (Pudjiwati memilih kata Wanita) di wilayah pedesaan. Hal ini tercermin dalam kiprahnya sebagai pionir pendiri Pusat Studi Wanita pertama di Indonesia (dalam hal ini di IPB). Hal ini terutama berfokus pula terhadap peran perempuan terhadap keluarga dan masyarakat pedesaan.

Fokus itu dilihat dalam tiga konsep, seperti pembagian kerja antara pria dan wanita, status wanita dalam keluarga, rumah tangga dan masyarakat, dan relasi antara wanita dan pria seperti pembagian kekuasaan dan otoritas. Tiga konsep kajian itu bertumpu berdasarkan teori Sosiologi Keluarga (Levy dan Djojodiguno) dengan lima sub-struktur: Diferensiasi Peranan, Alokasi Ekonomi, Alokasi Kekuasaan, Alokasi Solidaritas, dan Alokasi Integrasi dan Ekspresi.

Hal inilah yang menjadi dasar pengembangan pemikiran Pudjiwati dalam sebagian besar hidupnya menggali dan mencari jalan keluar mengentaskan masalah Perempuan di pedesaan. Meski begitu, Prof. Keppi Sukesi memberikan pendapat untuk mendalami dan mengkaji permasalahan perempuan di era sekarang yang belum ditemui di masa Pudjiwati masih ada.

“Agaknya, perlu untuk melirik dan mendalami fenomena perempuan desa yang bermigrasi ke daerah perkotaan akibat derasnya perkembangan industrialisasi. Apakah hal tersebut berpengaruh terhadap peran perempuan dan perubahan terhadap relasi keluarga,” saran Keppi. [kmi]

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

16 − 12 =