Profil

Sajogyo
Prof. Sajogyo

Di awal abad ke-21, tanah air dan rakyat Indonesia semakin dijadikan tempat dan tenaga kerja dalam memproduksi komoditas-komoditas untuk pasar global dengan mengorbankan keselamatan dan kesejahteraan rakyat, produktivitas rakyat, dan keberlangsungan layanan alam. Kekuatan pasar, kebijakan pemerintah, dan lembaga-lembaga di dalam masyarakat telah direkayasa untuk memperbesar keuntungan dan pengaruh para elite pemilik modal, dan penguasa politik, serta para pelaksananya. Mekanisme kerja dari kekuatan-kekuatan ini berbeda-beda antara satu tempat dengan tempat lain sesuai dengan besaran, skala, ruang, dan waktunya.

Prof. Sajogyo bersama Gus Dur dan Para Muridnya
Prof. Sajogyo bersama Gus Dur dan Para Muridnya

Kajian-kajian yang dilakukan para sarjana Indonesia belum memadai untuk memahami dan menganalisis pengaruh (a) ekonomi pasar, proyek-proyek pembangunan, dan rejim-rejim internasional lingkungan; (b) kuasa elite dalam liberalisasi politik, desentralisasi demokratik dan kelembagaan masyarakat terhadap pembentukan kemiskinan, perubahan agraria dan lingkungan pedesaan, beragam artikulasi organisasi masyarakat sipil, khususnya yang berkenaan dengan pembentukan kelas sosial, perbedaan posisi laki-laki dan perempuan, dan posisi geografis tempat-tempat di seantero kepulauan Indonesia.

Berangkat dari latar belakang di atas, Sajogyo Institute hadir sebagai lembaga nirlaba yang bergerak dalam bidang penelitian, dokumentasi, pendidikan, pelatihan, dan advokasi kebijakan untuk mencapai cita-cita keadilan agraria, kemandirian desa-desa, serta persamaan hak perempuan dan laki-laki dalam penguasaan, pemilikan, penggunaan, dan pemanfaatan tanah dan sumberdaya alam.

Yayasan ini didirikan atas inisitaif para murid dan kolega Prof. Sajogyo yang dikenal sebagai peletak dasar ilmu Sosiologi Pedesaan Indonesia. Yayasan ini menerima wakaf berupa tanah yang berada di Jl. Malabar 22, Bogor 16151, dengan keseluruhan bangunan rumah beserta isinya dari Prof. Sajogyo.