Halal Bihalal YSIU-SAINS: Menuju Satu Abad Prof. Sajogyo

Share on facebook
Facebook
Share on twitter
Twitter
Share on whatsapp
WhatsApp
Share on telegram
Telegram

Yayasan Sajogyo Inti Utama (YSIU) dan Sajogyo Institute telah menyelenggarakan Halal Bihalal, kemarin (28/4). Halal bihalal yang berlangsung di Kantor Malabar 22 dihadiri oleh perwakilan Keluarga Prof. Sajogyo (Antonio Koenoro) Dewan Pembina (Endriatmo Soetarto dan Ekawati Sri Wahyuni), Dewan Pengawas (Satyawan Sunito dan Rizal Razak), Dewan Pengurus (Moh. Shohibuddin dan Eko Cahyono), jajaran Badan Eksekutif Sajogyo Institute dan para Mitra Lembaga Sajogyo Institute. Tak ketinggalan hadir juga para senior-senior yang pernah aktif di Sajogyo Institute seperti Budi Baik Siregar (Direktur Eksekutif pertama Sajogyo Institute), Dewi Dwi Puspitasari Sutejo (mantan Deputi Sajogyo Institute) dan para pegiat Sajogyo Institute lainnya.

Prof. Endriatmo Soetarto (Ketua Dewan Pembina Yayasan Sajogyo Inti Utama) memberikan sambutan Halal Bihalal di Kantor Malabar 22 (Shela/Sajogyo Institute)

Halal bihalal tahun ini cukup spesial, mengingat peringatan satu abad Prof. Sajogyo tinggal menghitung tahun, tepatnya 2 (dua) tahun. Bergulir banyak gagasan untuk menggali kembali dan mereaktualisasikan (dan mengkritisi) pemikiran Prof. Sajogyo di tengah wacana pembangunan neoliberal yang semakin mengakar dalam di Indonesia. Usaha-usaha tersebut harus berkonsentrasi pada gagasan besar Sajogyo selama hidupnya, seperti studi kemiskinan, studi sosial ekonomi pedesaan, studi ekologi pedesaan, hingga meneliti ulang desa-desa riset yang pernah didalami di masa Survey Agro-Ekonomika (SAE) masih aktif.

Para Staf dan pegiat Sajogyo Institute menghadiri Halal Bihalal YSIU-SAINS (Iqbal/Sajogyo Institute)

Banyak gagasan yang diutarakan seperti meninjau kembali masalah kemiskinan dalam 50 tahun terakhir, menilai kembali relevansi kemiskinan yang digagas Sajogyo dan apa saja perubahan definisi dan kebijakan kemiskinan dalam setidaknya 20-30 tahun terakhir, hingga meninjau kembali relevansi riset Inpres Desa Tertinggal dalam pengentasan kemiskinan dalam jangka panjang. Para senior SAINS yang pernah belajar langsung dari Pak Sajogyo pun ikut mengenang waktu bersama Beliau. Dewi, yang akrab disapa Uwi, mengenang bagaimana Pak Sajogyo sangat antusias membaca catatan-catatan lapang dari para peneliti lapang. Uwi mengenang betapa Pak Sajogyo begitu menunggu catatan lapang Uwi yang turun lapang ke Poso pada medio pertengahan 2005-2006.

Melani Abdulkadir-Sunito memberikan pendapat tentang pentingnya mendalami kembali studi Ekologi Pedesaan yang telah diwariskan oleh Prof. Sajogyo. Tak hanya itu, studi lapangan kerja non-pertanian di pedesaan yang pernah ditangani Prof. Sajogyo harus dilacak kembali. (Iqbal/Sajogyo Institute)

Rizal Razak, yang kini menjadi Dewan Pengawas dan berkarir dalam dunia profesional, masih mengingat nasihat dari Prof. Sajogyo: maksimalkan semua indra yang dimiliki, lalu catatlah meski itu remeh. Nasihat itu masih dipegang Rizal dan kebiasaan mencatat tetap menjadi kebiasaannya hingga kini. “Itulah kelebihan dari Pak Sajogyo dalam studi pedesaan, di mana dengan memaksimalkan indra kita, sesuatu yang tidak bisa menjadi data dapat diolah menjadi data yang berguna, bahkan hingga waktu yang akan datang,” jelas Rizal.

Tak ketinggalan, Budi Baik Siregar turut mengenang waktu bersama Prof. Sajogyo. Ia belajar dari Sajogyo bukan dari pengajaran kuliah formal, namun justru belajar dari tugasnya sebagai asisten beliau. “Menjadi asisten beliau artinya menjadi tukang ketik”, kenang Budi. Ia begitu banyak belajar bagaimana menarasikan suatu tulisan bahkan hingga tanda baca dan konteks pembuatan satu alinea. “Karenanya, tulisan Prof. Sajogyo yang kita baca hari ini terasa menyeluruh. Tidak bisa dibaca secara sepotong-potong karena amat mencakup banyak aspek”, jelas Budi. [KMI].

 

More to explorer

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

three × two =

KABAR TERBARU!