Nusantara Bergerak: Dialog Antar-Bangsa Mencegah Pemburukan Krisis Sosial Ekologis

Share on facebook
Facebook
Share on twitter
Twitter
Share on whatsapp
WhatsApp
Share on telegram
Telegram

Sajogyo Institute, bekerjasama dengan Pusat Studi Agraria IPB University, menyelenggarakan Diskusi Publik “Nusantara Bergerak” pada Sabtu lalu (1/6). Diskusi yang bertepatan dengan Hari Pancasila tersebut mengambil tema Ekologi dan Pembangunan. Acara yang diselenggarakan di Ruang sidang PSP3 IPB Baranangsiang itu menghadirkan 4 (empat) pembicara dari 3 bangsa, seperti Azhar Ibrahim Alwee (National University of Singapore), Shakila Zen (KUASA Malaysia), Roy Murtadho (Pengasuh Pesantren Ekologis Misykat al-Anwar, Indonesia) dan Shela Herlita (Sajogyo Institute, Indonesia).

Diskusi dibuka dari Azhar Ibrahim dengan mendedahkan Masyarakat Ekologis (Ecological Sosciety). Ia dengan menegaskan, masyarakat global, khususnya masyarakat Asia Tenggara hari ini, semakin mengalami ketergantungan efek dari paradigma dan laku pembangunan yang terlampau teknologis.

Akibatnya, lahir pola pikir yang menginjak-injak alam-ekologis yang selama ini selalu lekat dengan hidup manusia serta mengasingkan antar-manusia satu sama lain. Akibatnya, sesama manusia dan alam seakan terasing satu sama lain: manusia menjadi objek eksploitasi antar sesamanya dan menjadikan alam sebagai subordinat dari kuasa manusia atas kepentingannya sendiri (kepentingan akumulasi kapital sempit). Teknologi semakin memperparah subordinasi dan alienasi tersebut. Ini yang disebut Azhar sebagai ‘Technological Society’.

Meski sempat diganggu akibat hacking dalam forum online, Azhar menawarkan antitesis dan jalan baru dari Masyarakat Teknologis, Azhar menawarkan paradigma Masyarakat Ekologis (Ecological Society). Ia mendasarkan referensi pada gagasan dua ilmuwan terdahulu, Sajogyo dan Murray Bookchin. Bagi Azhar, baik gagasan Sajogyo dan Bookchin saling menopang: melihat wacana ekologi akan terasa mengawang jika tidak melihat realitas dan fakta sosial di lapang, dan realitas dan fakta sosial di lapang tak akan ‘keluar dari cangkangnya’ jika tidak menautkan dengan wacana ekologi. Inilah yang ia sebut sebagai alat bedah analisis Ekososiologi dalam membedah problem sosial dan ekologis akibat dampak paradigma dan laku pembangunan berlandas ‘teknologis’.

Jika Azhar berfokus pada Sajogyo dan Bookchin, Shakila Zen memfokuskan paradigma ekofeminisme yang digagas Vandhana Shiva. Dalam pembacaan Shakila, gagasan Shiva menarik untuk menjadi antitesis dan jalan baru pembangunan rakyat yang lebih ekologis. Pembangunan ‘teknologis’ yang dikritisi oleh Shiva telah menimbulkan dampak dirampasnya ruang hidup rakyat, khususnya Kaum Perempuan paling lemah di pedesaan. Baginya, ada tiga pilar yang membuat pembangunan teknologis begitu merusak peradaban ekologi global: pembangunan teknologi yang rakus menggali, teknologi pangan yang merusak alam secara massif, digitalisasi yang memperparah krisis ekologis. Pembangunan ekologis, karenanya, perlu untuk memusprakan paradigma pembangunan teknologis yang begitu candunya, dan menggantinya dengan paradigma pembangunan ekologis.

Menguatkan argumen kedua pembicara selanjutnya, Roy Murtadho menegaskan, selama pembangunan bertumpu dan mengutamakan pada Kapital, maka pembangunan akan selalu merusak dan hanya akan memikirkan bagaimana sirkulasi dan akumulasi kapital bekerja secara langgeng. Kelanggengan kapital yang tak berkesudahan tidak akan memperhatikan kesejahteraan rakyat dan keberlangsungan ekologi lestari. Karenanya, sekali pembangunan telah mengenal kapital, maka ia akan terus bergerak dan menggerus apa yang ada di hadapannya.

Untuk menciptakan sirkulasi kapital yang selalu bergerak dan merembes ke mana-mana, demi menghindari ‘penghentian sirkulasi’ (yang berarti krisis), ia akan memakan ruang-ruang yang dapat ia ‘manfaatkan’, entah wilayah, kebudayaan, dan ekologi. Mereka ‘dikonstruksi kembali’ agar kapital dapat masuk ke dalamnya ‘secara kreatif’. Lebih dekat, kapitalisme melancarkan operasi ‘penghancuran kreatif’ ke berbagai lini kehidupan semesta alam.

Akibatnya, kerusakan sistem sosial manusia dan kerusakan ekologis melahirkan krisis sosial ekologis yang begitu meluas. Menimbulkan kerusakan iklim yang mengundang bencana sosial yang justri penyebabnya bukan ‘alam’, tetapi ‘konstruksi sosial global’ yang berpihak pada kapital dan merembes hingga ke akar rumput. Dampaknya yang paling terasa, kembali kepada rakyat pada lapis paling lemah yang harus menelan pil paling pahit.

Roy menawarkan gagasan ekososialisme sebagai paradigma alternatif dalam membangun peradaban yang lebih ekologis dan berpihak pada rakyat yang paling lemah. Baginya, ekososialisme merupakan sintesis paradigma sosialisme dan ekologis yang dapat menjadi antitesis dari paradigma kapitalisme hari ini. Tak hanya itu, ekososialisme bisa menjadi alat analisis dalam menyingkap begitu korosifnya pembangunan saat ini yang ditopang-utama olehg Kapital.

Ketiga pembicara sebelumnya membahas khusus tentang paradigma dan ideologi pembangunan. Hal ini berbeda dengan Shela Herlita. Ia menawarkan suatu cara pikir dan metodologi riset Kaji Tindak Partisipatif berbasis gender dalam melihat permasalahan sosial-ekologis di tingkat tapak.

Dengan berlandaskan pada Riset Studi Perempuan ala Prof. Pudjiwati Sajogyo dalam menyoroti peran ganda (sekaligus beban ganda) Perempuan di Pedesaan (khususnya di wilayah pesisir), Shela menawarkan kaji tindak partisipatif di mana ujungnya adalah penguatan peran perempuan pesisir melalui pengorganisiran. Ia mengambil contoh dari studi kasus yang ia jalankan di Desa Lutur, Kepulauan Aru, Kepulauan Maluku. Dengan potensi tanaman kelapa di sana, fokusnya adalah usaha membentuk Lembaga Usaha Bersama Mandiri dalam memproduksi minyak kelapa VCO. Tak hanya itu, pengorganisiran membutuhkan proses penyadaran dan wahana belajar bersama bertindak setara melalui pendidikan rakyat.

Sehingga, tujuan dari riset aksi dan pengorganisiran ini berujung pada pengembangan potensi sosial ekonomi yang tumbuh dari kesadaran masyarakat pedesaan dan bersifat mandiri, pengembangan kapasitas masyarakat Desa dalam berusaha serta menahan gempuran ekonomi global yang semakin masif dan merusak di berbagai lini, serta melindungi serta mencegah krisis sosial ekologis yang bakal terjadi akibat merasuknya kapital di berbagai lini kehidupan pedesaan. [KMI]

 

Diskusi dapat dilihat di video YouTube di bawah ini:

 

 

 

More to explorer

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

3 × 3 =

KABAR TERBARU!