SINEMATIK #15: Membedah Pemikiran Pudjiwati Sajogyo

Hari Jumat, 4 September 2020, Sajogyo Institute mengadakan Serial Diskusi Online Tematik edisi kelima belas dengan mengusung tema Membedah Pemikiran Pudjiwati Sajogyo”. Diskusi daring dilakukan melalui platform Zoom Meeting dan disiarkan secara langsung di kanal Youtube Media Sajogyo Institute. Diskusi dimulai pada pukul 14.00 WIB dan dibuka oleh Kiagus M. Iqbal sebagai Moderator.

Forum kali ini diawali dengan pemantik diskusi dari tiga Narasumber, yaitu Dr. Siti Sugiah M. Mugniesyah sebagai Kepala Pusat Studi Wanita – Lembaga Penelitian IPB tahun 1994 – 2002, Ruth Indiah Rahayu sebagai Peneliti Inkrispena, dan Dr. Melani Abdulkadir – Sunito selaku  Pengajar Fakultas Ekologi Manusia IPB.

Siti Sugiah M. Mugniesyah mengawali sesi pemantik diskusi dengan mengusung topik terkait kontribusi Pudjiwati Sajogyo dalam membangun studi perempuan pada perguruan tinggi di indonesia. Sugiah mengakui bahwa sumbangsih Pudjiwati dalam dunia akademisi adalah mengembangkan studi wanita di berbagai Perguruan Tinggi Indonesia untuk mendukung tujuan peningkatan pembangunan pedesaan.

“Studi yang dilakukanpun berdasarkan kondisi empiris dengan berusaha mengenali dan mengurai masalah serta menyintesis rekomendasi yang dapat menjadi rujukan bagi penyusunan kebijakan pemerintah di dalam peningkatan ruang bekerja, berusaha, dan pendapatan dalam evaluasi repelita. Sifat kajianpun pada umumnya menggunakan pendekatan kuantitatif yang multidisiplin,” ujarnya.

Pada sesi kedua, Ruth Indiah Rahayu menyampaikan topik mengenai Pudjiwati Sajogyo: Perintis Studi Perempuan pada Zamannya. Ruth berpendapat bahwa Studi yang dilakukan oleh Pudjiwati masuk kategori generasi pertama studi wanita (1970-an). Studi ini dirintis oleh Esther Boserup yang berfokus pada Peranan Perempuan dalam pembangunan. Studi ini menyajikan evaluasi yang sistematis terhadap pembangunan ekonomi serta analisis makro-ekonomi yang ternyata memiliki dampak berbeda terhadap laki-laki dan perempuan dalam transformasi struktural yang terkait dengan modernisasi pertanian dan industri.

Kajian dampak pembangunan terhadap perempuan yang dilakukan oleh Boserup ternyata membuktikan bawa pembangunan tidak memberikan suatu peningkatan kualitas apapun terhadap perempuan dan memicu terjadinya marginalisasi. Kekuatan riset empirik Boserup inilah yang menginspirasi PBB untuk menyelenggarakan Konferensi Perempuan Internasional I pada tahun 1975 di Meksiko dan Dekade Perempuan Internasional.  Indonesia saat itu mengalami pengaruh dari arus besar konferensi perempuan pertama dan dekade perempuan internasional.

“Selain itu, Paradigma yang dianut BPS saat itu masih cenderung neo klasik sehingga partisipasi perempuan dalam pembangunan masih dianggap rendah. Sehingga terdapat upaya Pudjiwati untuk menyangkal asumsi tersebut melalui risetnya yang secara empiris memaparkan kontribusi perempuan dalam pengembangan human capital, yang tentu berperan sangat penting terhadap pembangunan negara. Pudjiwati memang belum melakukan pengolahan dari laporan risetnya sebagaimana Boserup yang menunjukan perubahan sosial khas petani sawah pedesaan pada awal industrialisasi. Data riset Pudjiwatipun telah kuno, tetapi dapat menjadi sejarah kondisi perempuan pedesaan 40-50 tahun yang dapat kita bandingkan dengan kondisi saat ini, Oleh karena itu, perlu adanya tradisi kritik terhadap kerangka analitik yang dikmbangkan Pudjiwati dimasa kini agar tradisi ilmiah yang digunakan Pudjiwati dapat berkembang” kata Ruth,

Melani Abdulkadir – Sunito menutup sesi dengan penyampaian materi terkait Visible Enough? Membedah dan Melanjut Pemikiran Pudjiwati Sajogyo mengenai “kerja”. Melani mengemukakan bahwa Kerja perempuan menjadi fokus penelitian karena saat itu pekerjaan rumah tangga belum didudukkan di tempat yang wajar karena peranannya hanya sebagai pemberi dukungan untuk anggota pencari nafkah dalam memanfaatkan peluang kerja yang memungkinkan berlangsungnya kegiatan produktif. Disisi lain, peran yang sebagai bagian dari proses reproduksi/sosialisasi dalam rangka menyiapkan generasi muda belum diperhitungkan.

Pemikiran Pudjiwati saat itu mengadopsi kerangka analisa struktural fungsionalis Marion J Levy. Analisis struktural fungsional yang digunakan oleh Pudjiwati tidak hanya menjelaskan kondisi laki-laki dan perempuan, tetapi juga melihat perbedaan kerja yang terjadi antarlapisan rumah tangga. Namun Analisis struktural fungsional terkesan gagap dalam menjelaskan kategori home based work dan belum mampu menjelaskan perubahan yang mencakup analisis hirarki, struktur kekuasaan, dll sehingga unit analisis yang digunakan Pudjiwati mulai ditinggalkan oleh IPB.

“Sayangnya, warisan pemikiran Pudjiwati kurang begitu diingat sehingga menghalangi orang luar IPB untuk lebih mengenal sosok Pudjiwati. Oleh karena itu, siapapun yang merasa harus mewarisi Pudjiwati perlu membenahi, menerangkan lebih baik apa saja sumbangsih Pudjiwati sehingga pengetahuan mengenai pusat studi wanita dapat terkumpul sebagai tanda menghormati para pembangun Sosiologi mazhab Bogor, selain itu, sudah saatnya kita melihat kembali bagaimana peneliti (terdahulu hingga saat ini) dalam mengonseptualkan gender serta kemana arah penelitian gender yang kemudian berkembang dalam IPB. Sehingga akan diketahui sejauh mana perkembangan studi gender yang barangkali disertai dengan ‘belokan’ terhadap penelitian konsep kerja yang dikembangkan oleh Pudjiwati” kata Melani.

Unduh Bahan Materi:

Ruth I. Rahayu – Pudjiwati Sajogyo, Perintis Studi Perempuan di Masanya

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

eight + 6 =