SINEMATIK #4: Pangan dan Kemiskinan Rakyat: Krisis Masa Pandemi dan Tantangannya di Masa Depan

Serial Diskusi Online Tematik (Sinematik) kembali berlanjut. Dalam Sinematik putaran ke-4 (28/4), tema yang diangkat adalah ‘Pangan dan Kemiskinan Rakyat: Krisis Masa Pandemi dan Tantangannya di Masa Depan”.

Sinematik yang diadakan secara dari melalui platform Zoom meeting tersebut, menghadirkan tiga narasumber, yaitu Nissa Wargadipura (pengasuh Pesantren Atthariq), Kartini Samon (Peneliti GRAIN) dan Prof. Agus Pakpahan (Inovator Pertanian, Peneliti Senior PSEKP).

Nissa Wargadipura menekankan perlunya keterhubungan manusia dengan alam dan masa depan. Baginya, perbaikan ekonomi dan ekosistem bisa berjalan seiring dan mensejahterakan. Ia juga menekankan masih membekasnya sisa-sisa Revolusi Hijau yang membuat petani ketergantungan bahan kimia yang merusak ekologi. “Revolusi Hijau itu tidak menolong sama sekali”, tegas teh Nissa, sapaan akrabnya.

Ia menekankan bahwa perlunya bertani secara mandiri dengan benih lokal, bertani secara agroekologi dan tidak menggantungkan diri pada input pertanian dari luar. Ia juga mengingatkan, dalam menghadapi pandemi, masyarakat harus menanamkan tiga semangat, yaitu semangat bahwa tanah memiliki fungsi sosial, semangat solidaritas dan semangat silaturahmi.

Teh Nissa juga mengingatkan untuk mulai tidak tergantung terhadap satu sumber karbohidrat yaitu beras. Baginya, krisis pangan terjadi akibat penyeragaman sumber karbohidrat dan mengabaikan sumber yang lain. Hal ini akan berefek pada masalah gizi dan semakin larutnya perdebatan kedaulatan pangan.

Kartini Samon, dalam menyikapi masalah pandemi dan pangan ini, menekankan empat hal. Pertama, prasangka terhadap pasar tradisional terkait penyebaran awal Virus Covid berujung perdebatan penutupan pasar tradisional di seluruh dunia. Menurutnya, pasar tradisional tidak ada kaitannya dengan penyebaran virus tersebut. Temuan terbaru, justru kasus Covid tidak di Wuhan, sedangkan hasil peninjauan terhadap hewan-hewan di Wuhan tidak mengindikasikan adanya Covid.

Kedua, penyebaran virus penyakit hewan (menular ke manusia) disebabkan oleh industri peternakan besar seragam dan industri agribisnis. Baginya, sumber awal penyebaran penyakit berasal dari tempat-tempat peternakan besar dan industri agribisnis yang selama ini banyak menghasilkan virus-virus mematikan seperti Flu Burung dan Flu Babi.

“Pertanian atau industri agribisnis itu yang menjadi salah satu pemicu atau penyebab dari berkembangnya virus yang ada hari ini sehingga menjadi jauh lebih berbahaya sebenarnya”, jelas Kartini.

Ketiga, memperdagangkan dan menternakkan hewan liar. Kartini menyebut bahwa salah satu penyebab penyebaran virus Covid adalah adanya perdagangan hewan-hewan liar melalui black market. Hal ini menyebabkan penyebaran virus seringkali tidak terdeteksi karena di luar jangkauan pengawasan. Ia menekankan bahwa hewan liar tidak untuk diperdagangkan, meski dalam beberapa tempat (konteks budaya) ada pasar-pasar hewan liar seperti di Manado dan Tomohon. Ia menegaskan perlunya kebijakan untuk mengatur perdagangan hewan liar tersebut.

Keempat, masalah distribusi pangan. Masalah distribusi pangan di Indonesia masih menggantungkan diri terhadap pasokan impor dan masih terpinggirkannya hasil pangan lokal. Hal ini menyebabkan rantai pasokan pangan begitu panjang dan menghasilkan persebaran yang tidak merata.

Ia menegaskan, di masa Covid sekarang, jaminan ketersediaan pangan sangat penting. Terutama, jaminan sosial pangan untuk para buruh yang di-PHK maupun dirumahkan. Tercatat, dua juta buruh di-PHK. Sehingga, seiring hilangnya pendapatan, sulit pula memperoleh akses pangan yang terjangkau. Hal ini juga senasib dengan kaum miskin perkotaan lainnya yang terkena imbas hantaman Covid 19 yang menyebabkan pasokan pangan menjadi sulit dan langka.

Agus Pakpahan menegaskan perlunya riset dan penelitian dan pendidikan bencana. Agus menekankan, berdasarkan sejarah dan hasil penelitiannya bahwa pembelajaran yang diambil dari peristiwa Wereng 1976-1978 adalah perlunya inovasi padi yang tahan hama.

Berdasarkan penelitiannya, kandungan di dalam lalat hitam sebagai antibiotic alami yang kuat dapat dijadikan temuan untuk menciptakan padi dan hewan ternak yang tahan penyakit.

Ia juga menekankan pentingnya hasil riset terhadap penelitian-penelitian mikroorganisme sebagai masukan untuk menghadapi masa depan pertanian.

“Dia yang mengatur pupuk, kimia dimasukkan ke dalam tanah, dia baru bisa diambil oleh tanaman apabila di dalam tanah itu ada mikro-organisme, yang bisa mengkonversi dengan enzim-enzimnya, sehingga tanaman bisa ambil. Jadi, nomor satu itu mikro-organisme”, jelas Agus.

Diharapkan, dengan hasil penelitian tersebut, akan melahirkan pertanian yang bersifat bio.

Agus juga menekankan agar pendidikan bencana dan krisis untuk digalakkan di pemerintahan, dunia usaha, dan seluruh lapisan masyarakat. Pelajaran Wereng 1976-1978, krisis 1997-1998 merupakan contoh pembelajaran penting yang seringkali masyarakat Indonesia lupa terhadap potensi bencana dan krisis yang membayangi.

“Fenomena ini banyak kita temukan dalam kehidupan sehari-hari, setelah bencana itu selesai, katakanlah sudah hilang, pasca itu kita balik lagi. Itu yang yang disebut unlearn behavior, perilaku yang tidak didasari pada suatu proses pembelajaran”, kata Agus.

Ia mengharapkan, kasus Covid ini menjadi pelajaran penting yang harus diingat agar tidak terulang lagi di masa depan. “Jadi, kunci utama adalah bagaimana Covid ini selalu diingat, selalu dijadikan bahan pembelajaran di seluruh lapisan masyarakat. Mulai dari anak-anak sampai orang tua, supaya tidak lupa”, kata Agus mengingatkan.

Dalam Sinematik #4 kali ini, peserta ikut membagikan cerita bertani atau berkebun secara permakultur. Ramalis Sobandi, pemilik Kebon Belajar Tunas Nusa, Rancaekek, Bandung. Ia turut berbagi pengalaman bertani di ruang-ruang tersisa di wilayah Rancaekek. Ia juga mendorong masyarakat di perkotaan untuk menanam secara micro-green dan meminimalisir eksploitasi perkotaan terhadap pedesaan. [Kmi]

Unduh Bahan Materi:

Agus Pakpahan – Pangan dan Kemiskinan Rakyat: Krisis Masa Depan Pandemi dan Tantangannya di Masa Depan

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

thirteen − three =