Working Paper

2017

Penulis: Renal Rinoza

Fokus penelitian dalam tulisan riset ini adalah menyangkut hal-hal yang sangat melekat dan keseharian masyarakat seputar ruang hidupnya dan bagaimana mereka melangsungkan hidup di tengah perubahan besar. Apabila ada krisis sosial-ekologis dan krisis tenurial seperti apa krisis tersebut. Bagaimana pembentukan jejaring ruang hidup dan daur pengetahuannya. Sampai di mana batas-batas subsistensi orang Mamasa dalam mengupayakan hidupnya dan apa saja tantangan terbesarnya ketika dihadapkan dengan kekuasaan negara dan kapital yang masuk hingga mendalam. 

2017

Penulis: Ganies Oktaviana

Perempuan Seram adalah perempuan yang lahir untuk menjaga generasi. Mereka menjaga generasinya melalui dapur. Dapur terbangun atas lapisan-lapisan kehidupan yang tersusun dari tuturan dan tindakan bagaimana dapur itu bisa bekerja. Tentang sumber yang selalu menghidupinya juga subjek yang mengelolanya. Sebagai subjek penting dalam pengelolaan dapur, ia saling berdialektika dengan dapurnya. Dalam kehidupan harian, proses dialektika itu terus bergulir, tidak pernah berhenti. Jika berhenti, artinya subjektifitas perempuan dengan dapur telah putus, hancur, dan tercerai. Inilah bagaimana perempuan-dapur-hidup harian adalah seperti frase yang setara dan bergandengan (Bahasa Seram: kele).

2017

Penulis: Abdul Waris

Garis hubung dalam ruang-orang (hyphen) mengisyaratkan adanya kelenturan spasial antara orang dan ruangnya. Orang dengan daya fikir dan jelajah imajinasinya yang menaruh pemaknaan. Lajur sejarah ruang hidup dari layanan alam yang sama. Cara orang Maluku dalam menandai ruangnya dengan hadirnya pohon sagu. Menempatkan di mana batas antar Hutan satu dengan lainnya, Negeri satu dengan lainnya, Dusun satu dengan lainnya. Menjadi ruang batas sekaligus ruang bertemu yang bisa diakses oleh manusia dari keduanya. Dan atau manusia yang sekelebat melintas sewaktu melakukan perjalanan.

2017

Penulis: Budiono Zaini

Dampak dari suatu alat pertanian baru dan terutama teknologi yang digunakan dalam satu kultur tanah kerap menimbulkan perubahan sosial perdesaan yang drastis. Dan hal ini terjadi di Seram, pada kultur tanah dusun Sagu di dua negeri yakni Sepa dan Lafa. Sagu kerap dianggap oleh orang luar sebagai sumber pangan yang tak lagi memdai. Padaha kenyataannya, sumber pangan jenis ini sangat melimpah. Dan memiliki latar belakang sejarah yang panjang, serta seperangkat pengetahuan yang dapat menghidupi orangnya. Namun, penetrasi ekonomi berbasis surplus telah banyak merubah kondisi sosial-ekonomi dan mengikis ‘Ruang Hidup’ orang Seram.

2016

Penulis: Iqbal Assegaf

Cerita ini, dari orang Cisungsang, yang pernah bertemu dengan saya dan berbincang bersama saya. Saya hanya bertanya pada saat itu. Bertanya mengenai keadaan hidup, yang pernah dialami dan sedang dialami hari ini. Yang saya tulis, merupakan cerita yang saya dengar dengan telinga saya, yang saya ucapkan merupakan ucapan orang Cisungsang. Saya tidak akan berani menambah atau mengurangi cerita yang saya dapatkan.

1

2

3

4

Categories
Stay Connected with Us!

Jalan Malabar No.22 Bogor, Indonesia, 16151
Telp/Fax (0251) 8374048
Email: eksekutif@sajogyo-institute.org

Categories
Stay Connected with Us!

Jalan Malabar No.22 Bogor, Indonesia, 16151
Telp/Fax (0251) 8374048
Email: eksekutif@sajogyo-institute.org

© 2021 Sajogyo institute

KABAR TERBARU!