Working Paper

Desa Kalisari yang Tak Indah Lagi

2016

Penulis: Ahmad Jaetuloh

Masyarakat Kalisari kini semakin sedikit yang memahami lagi bagaimana caranya mencangkul, membajak dan menuai padi. Sawah sudah berubah menjadi bangunan rumah besar dengan seperangkat alat produksi tahu di dalamnya. Mesin gilingan kedelai sudah mulai berbunyai sejak dini hari. Menandakan bahwa produksi tahu sudah dimulai sejak matahari belum muncul dari ufuk timur. Semua masyarakat Kalisari bergegas memenuhi panggilan pekerjaannya masing-masing, ada pekerja yang sibuk menggiling kedelai, ibu-ibu di pinggir jalan menunggu angkutan menuju pasar untuk menjual tahu dan kuli-kuli angkut yang hilir mudik membawa blak tahu.

Tanah, antara Kehidupan dan Kehancuran

2016

Penulis: Moh. Abdul Muit Pelu

Ruang hidup hancur akibat tanah menjadi barang dagangan, serta bertumbuhnya perusahaan, pabrik-pabrik, yang mengakibatkan masyarakat kehilangan pengetahuan tradisionalnya, budaya, serta kehidupan sosial yang dilandaskan atas nilai kekeluargaan. Menjadi pekerja di perusahaan, sebenarnya seperti diperbudak tetapi pilihan itu sudah tidak bisa dina6kan, karena ketergantungan akan gaya hidup yang dilandaskan dengan uang.

Jebakan Ancaman Ekologis di Lebak Selatan

2016

Penulis: Rudi Mulyana

Udara sejuk cenderung terasa dingin di Kampung Kulantung Tonggoh. Suara burung terdengar jelas di telinga dengan beragam jenis. Pagi sekitar pukul 5, si Emak sudah bangun dan saya lihat hampir selesai masak di dapur. Rencananya, hari ini Emak akan pergi ke sawah untuk “ngarabuk binih” (mencabut bibit padi yang sudah disemai di pabinihan). Dengan sedikit tergesa-gesa kemudian ia mulailah memindahkan nasi, lalab daun jambu mete, garam, mie instan, kopi dan gula aren serta sebotol air putih untuk bekal di sawah.

Cerita Dari Sawarna: Catatan Belajar Awal di Lebak

2016

Penulis: Risman Buamona

Sawarna merupakan sebuah desa pesisir di bagian selatan Lebak, Banten. Desa ini berhadapan langsung dengan laut Samudera Hindia. Sebagaimana desa umumnya, desa ini terdiri dari beberapa kampung, antara lain: kampung Babakan Mede, Cipanas, Pojok Asem, Gempol, Cibarengkok, Cikaung, Cibeas, Cisujen, Babakan Inpres, Cihasim, Sangko dan Leles. Jumlah kampung di desa Sawarna jauh lebih banyak sebelum terjadi pemekaran. Setelah pemekaran pada 2009 lalu, kini Sawarna terbagi dua, yakni desa Sawarna serta Sawarna Timur.

Sawah Di Lingkungan Adat Buhun

2016

Penulis: Imam Hasanul

Masyarakat Karangligar sebenarnya menyadari betapa pentingnya memiliki sawah. Sawah sudah dianggap sebagai tempat makan. Perseteruan di masa lalu dalam hal kepemilikan lahan sawah mulai dari perseteruan dengan para jawara dalam memperebutkan lahan sawah dan sebab-sebab dari pengaruh luar akan memenuhi kebutuhan seperti kebutuhan makan pada saat pola tanam satu kali dalam setahun, kebutuhan sekolah, dan modal untuk hajatan merupakan sebuah cerita masa lalau yang menjadi terpisahnya warga dari lahan sawah yang mereka miliki, namun selain itu juga bukan berarti tidak ada upaya untuk kembali berteman dengan sawah yang sempat terlepas dalam kehidupan mereka. 

5

6

7

Categories
Stay Connected with Us!

Jalan Malabar No.22 Bogor, Indonesia, 16151
Telp/Fax (0251) 8374048
Email: eksekutif@sajogyo-institute.org

© 2021 Sajogyo institute

KABAR TERBARU!