
Bedah Tiga Buku Kajian Petani dan Perubahan Agraria Insist Press
“Politik pengetahuan yang tidak adil telah memproduksi konstruksi sosial yang timpang baik secara sosial, politik dan ekonomi,” begitulah kata pembuka dari Bayu Eka Yulian, Kepala Pusat Studi Agraria IPB University dalam Peluncuran dan Diskusi Tiga Buku Kajian Petani dan Perubahan Agraria Insist Press, Selasa lalu (3/2).
Insist Press luncurkan tiga buku sekaligus: Dinamika Politik Gerakan Agraria Transnasional karya Marc Edelman dan Saturnino M. ‘Jun’ Borras, Aktivisme Cendekia dan Perjuangan Agraria karya Saturnino M. ‘Jun’ Borras dan Jennifer C. Franco, dan Pertanian dan Masalah Generasi karya Benjamin White. Acara yang diselenggarakan di Auditorium Andi Hakim Nasution IPB Dramaga ini merupakan rangkaian awal dari marathon peluncuran tiga buku Insist Press terbaru yang diselenggarakan di empat lokasi: Bogor, Jakarta, Bandung dan Yogyakarta.
Bayu membuka peluncuran dan diskusi buku dengan menekankan urgensi demokratisasi dan dekolonisasi pengetahuan untuk membongkar politik pengetahuan kiwari. Baginya, politik pengetahuan hari ini telah menciptakan konstruksi sosial yang menghasilkan struktur sosial yang timpang dan tidak adil. “Ini terlihat dari hasil riset yang tidak pernah sampai kepada rakyat di tapak, khususnya gerakan petani dan rakyat pedesaan. Justru, hasil riset jatuh ke jurnal-jurnal berbayar baik tingkat nasional maupun internasional,” tegas Bayu.
Karenanya, terbitnya tiga buku ini adalah momentum yang tepat untuk memulai agenda dekolonisasi dan demokratisasi pengetahuan. Hal ini, sebagai bagian dari rangkaian 100 tahun Prof. Sajogyo, sesuai dengan misi Prof. Sajogyo dalam membongkar politik pengetahuan kolonial yang semakin kait kelindan dengan agenda modernisasi pembangunan baik selama Orde Baru maupun setelahnya.
Prof. Ernan Rustiadi, Wakil Rektor IPB University, membuka acara dengan menegaskan bahwa agenda dekolonisasi dan demokratisasi pengetahuan di IPB hari ini masih dalam tahap awal. Mazhab Bogor, sebagaimana diinisiasi oleh Prof. Sajogyo dan para koleganya (Prof. Pudjiwati Sajogyo, Prof. Sediono MP. Tjondronegoro dan Dr. Gunawan Wiradi), masih kurang terkonsolidasi. Konsolidasi itu mengharuskan para ‘pemeluk’ mazhab untuk menyesuaikan diri dengan perkembangan politik kebijakan dan kebijakan politik terkini, khususnya program populis Presiden Prabowo Subianto.
Padahal, menurut Ernan, kontribusi Mazhab Bogor amat ditunggu sebagai penyeimbang di dalam pemerintahan. Baginya, politik pengetahuan di dalam pemerintahan banyak didominasi oleh ‘praktis-pragmatis’ tanpa adanya pihak ‘konseptual, perencana dan paradigma kritis’. “Pemerintah tidak ada orang yang memiliki pandangan konseptual dan filosofi, lebih banyak orang-orang pragmatis,” jelas Ernan.
Laksmi A. Savitri, koordinator penerbitan seri Kajian Petani dan Perubahan Agraria Insist Press, secara rendah hati mengatakan bahwa penerbitan tiga buku seri ini (yang telah diikuti 4 penerbitan buku sebelumnya) merupakan inisiatif kecil sebagai langkah awal menuju perubahan besar. “Penerbitan buku ini adalah riak kecil untuk menciptakan gelombang besar di masa depan,” ungkap Laksmi. Ia pun mencontohkan riak-riak kecil ini dalam skala global seperti Land Deal Politics of Initiative dan Journal of Peasant Studies yang kini menjadi gelombang besar berkembangnya kajian agraria kritis dalam skala global.
Menurut Laksmi, penerbitan buku ini diharapkan menjadi bagian dari perkembangan kajian agraria kritis di Indonesia, yang juga senafas dengan cita-cita Prof. Sajogyo dan koleganya dalam Mazhab Bogor. “Mari kita menundukkan kepala dan menghaturkan doa kepada Prof. Sajogyo, Prof. Sediono Tjondronegoro dan Dr. Gunawan Wiradi yang telah membuka jalan bagi berkembangnya kajian petani dan agraria kritis di Indonesia.”
Masalah Generasi hingga Ketimpangan Gender
Diskusi tiga buku InsistPress menghadirkan tiga pembedah. Masing-masing pembedah membahas satu buku. Satyawan Sunito membuka diskusi dengan membahas buku ‘Pertanian dan Masalah Generasi’ karya Ben White.
Buku yang ia bedah membahas kondisi dan situasi relasi sosial dalam tataran antar-generasi: tua dan muda di kalangan petani dalam konteks reproduksi pertanian keluarga dan skala kecil. Problem yang dihadapi telah menjadi isu global yang meluas: degenerasi petani. Asumsi dan mentalitas dari para pengambil kebijakan dan akademisi secara dominan menganggap orang muda menolak untuk kembali dan melanjutkan pekerjaan orang tua mereka sebagai petani. Buku ini mematahkan asumsi dan narasi dominan an sich yang menyatakan penolakan orang muda bertani. Baginya, narasi penolakan orang muda bekerja bertani membuka jalan legitimasi perampasan tanah untuk pertanian skala luas, industrial dan korporatis.

Dalam pembacaan Satyawan, Ben White menunjukkan bahwa bukan problem mentalitas sebagai alasan mendasar penolakan orang muda an sich terhadap reproduksi pertanian. Problem yang lebih mengakar sebagai alasan penolakan orang-orang muda adalah problem struktural dan relasional. Tiga alasan utama penolakan generasi muda akibat problem keduanya tidak diselesaikan: karena bertani berarti mewarisi kemiskinan, problem pemiskinan dan pelemahan menjadi normalisasi, dan konsekuensinya, mereka menolak untuk dilemahkan dan ditindas.
Henry Saragih, Ketua Umum Serikat Petani Indonesia (SPI), membedah “Dinamika Politik Gerakan Agraria Transnasional” karya Marc Edelmann dan Jun Borras.
Henry menyoroti peran Marc Edelman, sang penulis pertama buku ini. Ia menyatakan bahwa Marc Edelman adalah orang yang berjasa besar mempertahankan kosakata “Peasant” di tengah gempuran “Farmer”. Farmer memiliki kosakata yang cenderung petani yang telah melebur dan bergantung dengan pasar, tentu kita harus mengingat misalkan buku klasik A.T. Mosher (1969) yang membawa petani (Peasant) untuk memanfaatkan dan terlibat di pasar agar dapat bertransformasi menjadi Farmer. Peasant adalah kosakata yang menyimbolkan kedaulatan petani yang tidak bergantung pada pihak luar, baik dalam kerja produksi maupun reproduksi. “Inilah peran besar dari Edelman: mempertahankan kosakata Peasant!”
Menurut Henry, buku ‘Dinamika Politik Gerakan Agraria Transnasional’ berfokus pada lahirnya gerakan petani transnasional pada era perang dingin hingga pasca-perang dingin pada dekade 1990-an (khususnya saat momen lahirnya GATT dan WTO). Lahirnya kedua lembaga internasional tersebut menandakan Neoliberalisme pertanian dengan gaung konsep Farmer di seluruh dunia. Saat inilah lahir gerakan-gerakan perlawanan petani dalam tataran global.
Buku ini juga berusaha membalikkan mitos Marxis klasik yang menyatakan bahwa selama ini buruh selalu menjadi ujung tombak perlawanan dan revolusi, sedangkan petani tidak. “Buku ini ingin membalikkan itu, petani adalah ujung tombak, tidak hanya buruh! Ini terbukti dengan bangkitnya gerakan perlawanan dari kaum tani dalam skala global pada 1990-an,” jelas Henry.
Meski begitu, buku ini hanya bersifat pengantar. Lebih bersifat global dan belum bisa melihat secara rinci kontekstual, khususnya dengan kondisi dan situasi Indonesia.
Suraya A. Afiff membahas buku “Aktivisme Cendekia dan Perjuangan Agraria” karya Jun Borras dan Jennifer C. Franco. Kehadiran buku Aktivisme Cendekia tersebut dinilai tepat di waktu krisis demokrasi hari ini. “Dalam konteks civic space, peran akademisi sangat penting. Hanya saja, di mana dan bagaimana akademisi ini berperan?” jelas Suraya. Menurutnya, riset sebagai basis kerja cendekia seharusnya menopang dan memperkuat gerakan sosial.
Kerja-kerja aktivisme-cendekia memerlukan semacam kesetiaan ganda, yaitu setia pada kerja riset berbasis di kampus dan setia pada kerja-kerja gerakan aktivisme. Namun, kedua sisi itu harus berinteraksi terus menerus meski harus menimbulkan tensi tinggi. “Antara pola kerja riset seorang cendekia peneliti yang dingin dan pola kerja aktivisme berorientasi dampak segera yang panas selalu menimbulkan tensi yang tinggi,” kata Suraya.
Sayangnya, kerja-kerja aktivisme-cendekia begitu seret dan tertinggal di dunia kampus Indonesia. Menurutnya, banyak sekali penghalang yang membuat aktivisme-cendekia sulit berkembang. “kerja riset yang ada di kampus tidak relate dengan kondisi sosial dan focus peneliti sendiri. Akhirnya, mereka yang tidak bisa berperan banyak terpaksa harus ‘cabut’ dari kampus karena di sana tidak memenuhi apa yang mereka selama ini perjuangkan,” ungkap Suraya. Ia juga mengungkapkan beberapa faktor penghalang seperti adanya hirarki baik generasi maupun struktur kepemimpinan, paradigma konservatif yang memandang ilmu harus netral dan tidak berpihak, dan sikap apolitis kampus.
Padahal, ungkap Suraya, Indonesia pernah memasuki musim semi aktivisme-cendekia sebelum 1965. Peristiwa Pembantaian 1965 merupakan tonggak habisnya aktivisme cendekia khususnya terkait gerakan kaum tani dan agraria kritis di Indonesia. “Peristiwa itu menghabisi aktivisme Kaum Tani yang awalnya mulai membangun dengan jejaring kecendekiaan melalui kerja-kerja riset aksi seperti riset 7 setan desa kerjasama Akademi Ilmu Sosial Aliarcham dan Barisan Tani Indonesia.” Menurut Suraya, Sajogyo, yang saat itu bernama Kampto Utomo, masuk dalam lingkar aktivisme-cendekia pada 1960-an.
Suraya juga menyinggung betapa aktivisme hari ini telah mengalami perubahan yang signifikan dan berkembang, bahkan semakin terfragmentasi. “Gerakan ini tidak lagi terfokus pada antara Farmer versus Peasant, tetapi juga bertambah dengan isu Masyarakat Adat (Indigenous Peoples).” Suraya juga mengungkap, meski gerakan agraria berubah tetapi masih ada yang belum berubah, yaitu problem gender di dalam gerakan. “Begitu male-dominated-nya gerakan agraria di Indonesia. Laki-laki yang selalu menjadi garda depan, tetapi saat ia memperoleh tanah, ia menjual tanah dan membiarkan nasib perempuan terlunta-lunta,” tegas Suraya.
Penutup dari Para Penulis Buku
Menutup acara diskusi buku, Jun Borras dan Ben White memberikan paparan singkat mengenai buku yang mereka tulis. Jun menulis dua buku bersama Marc Edelman dan Jennifer C. Franco sebagai bentuk refleksi pergulatan pemikirannya yang tarik menarik antara kerja kesarjanaan (scholar) dan kerja pergerakan (activism). Jun telah memulai karir kecendekiaan sejak tahun 1996 kala ia mulai memasuki ISS selagi terlibat gerakan petani dari gerakan petani Filipina hingga menjadi Koordinator Utama La Via Campesina. Pengalaman gerakan itu menjadi modalnya untuk menempuh dunia kecendekiaan.

Jun mulai menyadari bahwa setiap kelompok, setiap lapisan dan setiap pihak, memproduksi pengetahuannya masing-masing. “Pengetahuan itu cenderung terpecah-pecah berdasarkan asas subjektivitas sehingga tidak mudah diterima satu sama lain. Hal ini yang membuat pengetahuan dianggap sebagai tidak setara,” kata Jun. Karenanya, agenda demokratisasi dan dekolonisasi pengetahuan penting agar pengetahuan menghasilkan masyarakat yang setara.
Jun menegaskan, demokratisasi pengetahuan dapat memberikan kekuatan kepada gerakan rakyat karena hasil riset memberikan kekuatan pengetahuan dan penopang untuk gerakan. Karenanya, akses bebas terhadap hasil riset agar dapat dijangkau gerakan menjadi penting.
Jun Borras juga memberikan refleksi bahwa gerakan selalu berada pada dua pandangan ibarat melihat gelas berisi air: setengah isi atau setengah kosong. “Setengah isi adalah mereka yang optimis karena dampak, peran dan kontribusi telah terpenuhi, karenanya harus dipertahankan. Sedangkan, setengah kosong, adalah kekurangan yang seharusnya diatasi, seringkali menjadi sasaran kritik dan berpotensi men-demobilisasi gerakan rakyat. Pandangan ini adalah pesimis,” Jun mengutarakan. Baginya, yang baik adalah berusaha untuk mengisi yang kosong itu meski sedikit. Itulah seharusnya gerakan: selalu bertambah dan berkembang, sehingga gelas bisa terisi.
Ben White menutup diskusi dengan menjelaskan secara singkat latar belakang dan apa yang ia gagas dalam buku “Pertanian dan Masalah Generasi”. Ia awalnya tergelitik memperoleh dan membaca dengan satu publikasi dari satu kementerian berjudul “Bertani Tidak Perlu Kotor”. 
“Dalam buku, dimuat gambar orang Gen Z yang bertani dengan teknologi drone, mengolah tanah dengan robot dan sebagainya. Dideskripsikan juga 100 Petani Gen Z itu memiliki buruh tani yang begitu banyak, omset hingga ratusan juta, menjalankan contract farming dan sebagainya.” Dari penjelasan dan ajang ‘pameran’ dalam buku itu, Ben mengajukan pertanyaan provokatif: apa relevansi buku ini bagi para orang muda yang hanya menguasai dan mewarisi tanah hanya 1000 – 5000 m2 atau kurang dari itu?
Ben menjelaskan bahwa problem generasional seringkai diremehkan oleh para pemangku kebijakan sebagai problem mentalitas. Ia mengungkapkan, buku yang ia buat menguak problem struktural yang melingkupi problem generasi dalam pertanian. “Di masa kini, hampir semua orang muda di pedesaan tidak menguasai tanah,” tegas Ben.
Ia juga mengungkapkan problem yang dihadapi Orang Muda adanya gerontokrasi, yaitu penguasaan tanah atas dasar kedudukan orang tua yang harus diperlakukan ‘hormat’. “Mereka yang ‘tak menghormati’ kedudukan orang tua akan berimplikasi pada penahanan transfer pemilikan, orang muda disuruh menunggu,” ungkap Ben.
Karena problem struktural tersebut, banyak Orang-orang Muda pergi dari desa. “Mereka mengisi ‘masa menunggu’ di luar desa sembari membekali pelatihan kemampuan mereka (sering disebut sebagai ‘masa lari dari desa’),” kata Ben. Orang Muda terkadang ada yang kembali ke desanya dengan harapan bisa melanjutkan kerja bertani pasca-pendidikan. “Itu pun sangat jarang,” aku Ben.
pengambil kebijakan dan akademisi sering mengobjektivikasi sesuai dengan tujuan mereka. Tapi mereka tidak pernah mengetahui apa yang mereka inginkan. “Sudah seharusnya Pemuda harus bersuara dan menjadi penentu atas dirinya sendiri. Apa yang sebenarnya terjadi dan dialami oleh Pemuda? Apa yang diinginkan mereka?” tutup Ben. [KMI]
