Sejauh Bisa Kami Kenang

Share on facebook
Facebook
Share on twitter
Twitter
Share on whatsapp
WhatsApp
Share on telegram
Telegram

 

Mengenang dan melepas kepulangan Francis Wahono ke keparipurnaan pada Minggu, 8 Maret 2026

Francis Wahono adalah orang yang hangat, supel, humoris dan menenangkan. Pada pertengahan Juli 2024 kami berkunjung ke Rumah Cindelaras, Sleman. Kami mewawancarainya untuk siniar tentang perjumpaan beliau dengan Prof. Sajogyo dan spiritualitasnya. Suasana Rumah Cindelaras sejuk, teduh dan ada beberapa ekor kucing yang ia rawat di sana. Dengan ditopang tongkat berjalan, ia menunjukkan salah satu ruangan tempat kerjanya. Ia baru saja pulih dari “episode stroke” yang membuatnya perlu dirawat secara intensif.

Awal tahun 2026, dalam rangkaian menuju Seabad Sajogyo, kami ingin mengajak Pak Wahono menulis bagian buku bibliografi beranotasi tentang Kemiskinan dan Analisis Kelas. Kami antusias dan menanti momen bisa mengobrol dengan beliau mengenai topik tersebut, karena kami yakin beliau menaruh perhatian mendalam pada golongan yang mudah ditipu, ditindas, dipermiskin, dan dimarginalisasikan. Kami ingin belajar banyak dari beliau, mengasah pikir dan memperhalus batin.

Kami senang mendengarkan beliau bercerita. Ada momen sangat kami tunggu, saat beliau memberikan pendapat atau komentar pada laporan tahunan kami, laporan tahunan Sajogyo Institute. Suara beliau sejuk. Beliau berbicara dari hati ke hati. Kami selalu merasa lebih bersemangat setelah menyimak cerita-cerita beliau, kenangan-kenangan beliau tentang Prof. Sajogyo. Rasanya, beliau adalah sosok simbah yang penuh kebijaksanaan dan pengetahuan.

Dalam struktur lembaga kami, beliau adalah Pengawas Yayasan Sajogyo Inti Utama. Namun dalam hati kami, beliaulah penjaga api generasi muda Sajogyo Institute. Di usia senja, beliau masih menyempatkan diri bergabung bersama kami secara daring, dan beberapa kali beliau mengatakan andai bukan karena kondisi kesehatannya, beliau ingin hadir bersama kami di Bogor.

Beliau merupakan murid ideologis Prof. Sajogyo, yang kami anggap paling mendalami kaji-tindak partisipatif. Pada pertemuan menjelang laporan tahunan 2023, beliau menjelaskan kepada kami semua, generasi paling muda yang mempelajari Prof. Sajogyo, bahwa kaji-tindak adalah penghayatan batin, laku seumur hidup. Dari penjelasan beliau kami pelan-pelan mengudar rasa betapa kaji-tindak sangat berdimensi spiritual. Beliau pernah bilang bahwa semangat kaji-tindak juga mengambil inspirasi dari teologi pembebasan. Namun, itulah pertama kali kami mendengar pemaknaan sederhana, tidak rumit dan dilebih-lebihkan, tetapi membikin hati jembar dan terang benderang: penghayatan batin, laku seumur hidup.

Dari beliau kami berguru tentang berpikir sederhana.

Tulisan beliau “Teori Terbentuk karena Aksi”, pengantar buku Ekososiologi karya Prof. Sajogyo, terasa sangat dekat, mengalirkan energi spiritual, memang tidak secara literal, tetapi itulah yang dihantarkan kepada kami. Ilmu bagi beliau adalah kelakone kanthi laku, artinya ilmu harus dipraktikkan dan terejawantahkan dalam laku sepanjang hayat. Pencarian ilmu merupakan proses pembebasan diri. Ilmu semacam ini gerah berada di dalam pengkotakan pengetahuan, tidak nyaman hidup di dalam dunia konsep tanpa praktik atau aksi, dan selalu merindukan pertemuan dengan manusia dan alam.

Beliau mengingatkan bahwa dunia yang kami hidupi adalah realitas semu. Suatu realitas jadi-jadian semacam ini “[…] dipergunakan untuk memperkuat kedudukan penindas, pemeras, pusat kekuasaan dan kekayaan, dan itulah yang disebut ideologi.”[1] Dalam dunia rakitan demikian, arsitektur pendidikan, begitu pula ilmu pengetahuan, yang dibangun dengan pendekatan satu arah dan dari atas, menjadi alat menghantar kekerasan.[2] Pada akhirnya, masyarakat di dunia kita terbiasa berada di alam otoritarian: dididik untuk terpengaruh setting permainan rekayasa kekerasan.[3]

Ilmu pengetahuan, begitu pula pendidikan, hendaklah membongkar “dunia palsu” yang kemudian diikuti dengan usaha membangun dunia bermakna bagi manusia. Kami ingat satu kutipan beliau:

“[…] kalau dalam realitanya si manusia kuat menindas si lemah, si manusia kaya mengeksploitasi si miskin, si manusia maju memperbodoh si terbelakang, si manusia rakus merusak sumber alam si manusia terpinggir, ilmu dan teorinya harus mengakui data itu, mengkaji, dan mencari solusinya.”[4]

Francis Wahono menekankan bahwa ilmu pengetahuan itu mesti mengoyak “dunia palsu” dan mengubahnya dengan teori yang terbentuk dari aksi, dari tindakan menghadapi realitas dengan penuh keberanian dan ketulusan.

Dan, inilah yang akan selamanya kami kenang dari beliau.

Akhir Januari 2026, beliau tidak bisa mengikuti rapat tahunan kami, namun tetap mengirim catatan tertulis. Kami berencana meminta beliau menembang pada malam penutupan 100 tahun Prof. Sajogyo. Namun, pada 25 Februari 2026 kami mendapat kabar bahwa beliau dilarikan ke rumah sakit. Tentu kami terpukul. Kemudian, kabar kepergian beliau datang terlalu cepat. Kami terpukul. Kenapa Bapak cepat pergi, meninggalkan kami yang terbata-bata mengeja penghayatan batin? Kami akan sangat merindukan suara Bapak.

Selamat jalan, Pak. Kami barusan mengulang kata-kata Bapak ketika melepas kepergian Prof. Tjondronegoro. “Selamat bertemu dengan pusat dari segala sodalitas di surga,” kata Bapak. Bolehkah kami meminjam bahasa Bapak untuk mengantar Bapak ke Semesta Batin Yang Maha Luas?

“Selamat bertemu dengan pusat dari segala sodalitas di surga, ya, Pak.”

Terima kasih, Pak. Bapak telah menembus hati kami.

***

[1] Francis Wahono, “Teori Terbentuk Karena Aksi” dalam Sajogyo, Ekososiologi: Deideologisasi Teori, Restrukturisasi Aksi, 2006, Cindelaras Pustaka Rakyat Cerdas, hlm. 7

[2] Francis Wahono, “Sistem Pendidikan: Sebuah Contoh Orgies Kekerasan”, dalam Baskara T. Wijajaya, dkk., Menelusuri Akar Otoritarianisme di Indonesia. 2007. Jakarta: ELSAM. hlm. 228.

[3] Francis Wahono, “Sistem Pendidikan: Sebuah Contoh Orgies Kekerasan”, …  hlm. 230

[4] Francis Wahono, “Teori Terbentuk Karena Aksi”, …  hlm. 8.

More to explorer

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

1 + fifteen =

KABAR TERBARU!