Tentang Menganotasi dan Membaca Karya Sajogyo

Share on facebook
Facebook
Share on twitter
Twitter
Share on whatsapp
WhatsApp
Share on telegram
Telegram

Wida D. Yistiarani*

Mengenal pemikiran seorang tokoh besar sering kali terasa seperti menempuh perjalanan jauh ke masa lalu, terutama ketika saya tidak pernah bertemu langsung dengan sosok tersebut. Sajogyo wafat pada 2012, jauh sebelum saya mengenal kajian agraria dan pedesaan. Saya dan beberapa kawan yang menyebut diri sebagai pegiat SAINS merasa ada jarak yang lebar antara keseharian kami dengan kedalaman pemikirannya. Dalam tulisan ini, saya ingin merefleksikan proses kami menjembatani jarak tersebut melalui bibliografi beranotasi.

Pertanyaan mendasar yang muncul adalah: kenapa kami memilih untuk menganotasi alih-alih hanya membaca dan mendiskusikannya dalam grup? Jawabannya terletak pada keterlibatan aktif yang dituntut oleh proses ini. Membaca saja sering kali bersifat pasif; informasi masuk, namun belum tentu menetap atau teruji pemahamannya. Sebaliknya, anotasi berasal dari bahasa Latin annotatio yang berarti catatan, dan akar katanya annotare yang berarti mengamati dalam tulisan (to observe in writing).

Anotasi memungkinkan pembaca untuk memasok catatan kritis atau penjelasan tambahan pada suatu literatur. Dalam konteks karya-karya Sajogyo yang jumlahnya mencapai ratusan manuskrip, terserak-serak dan belum semua didigitalisasi, metode ini menjadi sarana belajar yang efektif. Pada permulaan zaman modern, aktivitas membaca identik dengan aktivitas komunal dan politis, bukan hanya kegiatan soliter yang dilakukan dalam kesunyian. Proses anotasi menghidupkan kembali semangat membaca sebagai cara untuk mendapatkan pengetahuan yang sudah ada melalui pengamatan yang teliti dan ada pendokumentasian yang lebih rapi. Saya merasa, dengan mengamotasi, saya menjadi subjek aktif yang terlibat dalam kerja perawatan literatur dan penyebaran gagasan.

Para pembaca zaman dahulu sering mencatat secara terperinci kapan dan di mana mereka membaca, buku apa yang mereka miliki, dan bahkan buku apa yang telah dibaca oleh penulis aslinya.1 Contoh yang sangat menarik adalah keluarga Winthrop, sebuah dinasti politik di New England yang juga merupakan keluarga pembaca yang obsesif. Adam Winthrop, seorang pengacara lulusan Cambridge, sering kali menggunakan bibliografi ensiklopedis besar dari abad ke-16 untuk membantu menetapkan konteks sebuah buku dan penulisnya. Ia bahkan memberikan instruksi langsung kepada cucunya tentang cara menandai buku, menjadikan membaca dan menganotasi sebagai urusan keluarga yang menghubungkan lintas generasi.

Praktik ini menunjukkan bahwa anotasi berfungsi sebagai jaring yang menghubungkan banyak buku dan pembaca satu sama lain, menetapkannya dalam ruang dan waktu tertentu. Inilah yang kami coba lakukan dengan karya Sajogyo: menempatkan kembali pemikirannya dalam konteks ruang dan waktu yang tepat agar tidak hilang dalam mitos-mitos atau pengkultusan individu, selain untuk merapikan catatan belajar mengenai metodologi Sajogyo.

Secara historis, anotasi adalah cara manusia merekam pemikiran mereka di atas teks orang lain. Model anotasi yang umum dilakukan adalah dengan menulis catatan di marjin buku, bagian akhir buku atau di satu buku tulis terpisah. Biasanya saya tidak hanya menambahkan catatan substansial, tetapi juga reaksi seperti: ah susah, ah lucu, haha, apa maksudnya, ???, bagus nih, dan lainnya. Sementara itu, dalam buku Pusaka Pustaka Sajogyo yang pegiat kerjakan, mengadopsi format yang lebih terstruktur: naskah diurai ke dalam bentuk rangkuman, argumen, preskripsi, penilaian, dan kata-kata mutiara.

Dengan membagi elemen anotasi ke dalam kategori tersebut, saya dituntun untuk membedakan mana yang merupakan intisari pemikiran (rangkuman), apa yang ingin dibuktikan oleh penulis (argumen), tindakan apa yang disarankan (preskripsi), bagaimana posisi naskah tersebut dalam konteks saat ini (penilaian), dan bagian mana yang memiliki kekuatan bahasa yang mendalam (kata-kata mutiara). Model ini membantu saya menavigasi kompleksitas tulisan Sajogyo yang sering kali menggunakan istilah-istilah sulit dan gaya bahasa zaman dahulu.

Melakukan anotasi terhadap karya seseorang yang pernah saya anggap sebagai manusia mitos (the man and the myth), karena hanya mendengar namanya, bukanlah perkara mudah. Ada beban tanggung jawab moral dan intelektual di sana. Sepanjang proses ini, saya lebih banyak termenung dan mengulang membaca bagian yang sama berkali-kali karena merasa bingung atau takut salah menafsirkan maksud Sajogyo.

Ada perasaan asing sekaligus akrab. Saya berada di rumahnya, memegang kertas-kertas yang mungkin pernah ia sentuh, namun pikirannya terasa seperti teka-teki yang sulit dipecahkan pada awalnya. Namun, justru di tengah kesulitan itulah proses belajar yang sesungguhnya terjadi. Sebagaimana potongan tulisan Karl Marx di Capital Vol. 1 (saya belum baca buku ini) yang pertama kali saya baca di buku Marx in the Field (buku pegangan selama saya mengerjakan skripsi), yang kira-kira begini bunyinya:

“Tidak ada jalan pintas menuju ilmu pengetahuan, dan hanya mereka yang tidak gentar menghadapi pendakian melelahkan di jalur-jalur terjalnya yang memiliki kesempatan untuk mencapai puncak-puncaknya yang cemerlang.”

Ketika kami berhasil memecah kebuntuan atas satu paragraf yang sulit, saya merasa seperti sedang meniti undak-undakan kecil yang akan membawa kami pada puncak penuh bintang. Tiap mendiskusikan hasil anotasi dalam grup, dan terkadang kami mengajak murid-murid Sajogyo, rasanya seperti melakukan dialog melintasi waktu. Kami tidak lagi merasa jauh; melalui anotasi dan diskusi, kami mulai memahami komitmennya pada kaum yang paling lemah di pedesaan serta pilihan-pilihan yang membentuk pemikirannya.

Pusaka Pustaka Sajogyo mengandung lima tema besar yang merupakan generalisasi dari topik-topik kajian Sajogyo. Pertama, landasan filosofis dan metodologi, bagian krusial karena membahas trayektori yang membentuk pemikiran Sajogyo. Di sini dibahas sejarah kaji-tindak partisipatif, sebuah metodologi yang ia gunakan tidak hanya untuk meneliti, tetapi juga untuk memobilisasi warga kampung. Ini menunjukkan bahwa bagi Sajogyo, ilmu pengetahuan harus memiliki kaki untuk bergerak di tengah masyarakat. Kedua, studi kemiskinan, banyak orang mengenal Sajogyo hanya dari garis kemiskinan dengan standar beras. Melalui anotasi, kami melihat bahwa kontribusinya merentang hingga pengembangan aspek humanisme dalam mendefinisikan dan mencari solusi atas kemiskinan. Ia menegaskan bahwa pembangunan serba dari atas yang memaksakan kehendak elit, tidak akan menciptakan kesejahteraan yang merata, apalagi meningkatkan martabat manusia.

Ketiga, studi pangan dan gizi, yang menjelaskan bagaimana Sajogyo memberikan panduan praktis bagi kader gizi dan melakukan kajian intervensi Usaha Perbaikan Gizi Keluarga. Hal ini menunjukkan perhatiannya yang mendalam terhadap kualitas hidup manusia sejak dari unit terkecil, yaitu keluarga dan konsumsi pangannya. Keempat, dalam studi agraria, beliau mengusulkan reforma agraria dari bawah (land reform by leverage) dan komunalisasi tanah dalam bentuk Badan Usaha Buruh Tani.. Ini adalah refleksi yang ia temui di kampung-kampung berkaitan dengan ketidakadilan penguasaan sumber-sumber agraria serta distribusi di pasar. Kelima, peluang bekerja dan revolusi hijau, tentang kritik Sajogyo terhadap modernisasi era Orde Baru. Ia melihat bahwa modernisasi sering kali tidak membawa kesejahteraan yang merata, dan justru memperdalam ketimpangan. Karya monumental yang membawanya lebih dikenal adalah Modernization Without Development. Ia juga menerapkan sosiologi klinis untuk melihat permasalahan nyata di kampung-kampung.

Apa sebenarnya nilai penting dari sebuah buku bibliografi beranotasi di tengah arus informasi yang begitu cepat saat ini? Pertama, buku ini adalah upaya melawan reduksionisme. Selama ini, sosok Sajogyo sering kali disederhanakan hanya sebagai “bapak garis kemiskinan”. Padahal, ia adalah Bapak Sosiologi Pedesaan Indonesia yang pemikirannya sangat luas dan kompleks. Ada kecenderungan untuk menjadikan pemikirannya steril atau sekadar dokumen sejarah. Bibliografi beranotasi menghadirkan kembali konteks dan ketajaman kritiknya.

Kedua, bibliografi beranotasi memberikan ruang bagi pembelajar yang tidak pernah bertemu langsung dengan guru atau penulis dari karya-karya yang selama ini menjadi rujukan.

Ketiga, dan yang paling penting dalam situasi saat ini, adalah relevansi pemikirannya terhadap krisis masa kini. Kita sedang menghadapi meningkatnya militerisasi di berbagai sektor dan penghancuran keswadayaan masyarakat yang melemahkan lembaga desa. Dalam konteks ini, kembali membaca pemikiran Sajogyo melalui bibliografi beranotasi adalah upaya untuk menemukan kembali alat analisis terhadap realitas kehidupan pedesaan yang kian terhimpit.

Melalui proses yang panjang dan melelahkan ini, saya belajar bahwa menghargai warisan seorang tokoh tidak cukup hanya dengan memuji namanya. Sebagai pembelajar selamanya, saya harus berani bergulat dengan pikiran-pikirannya, mengkritik jika perlu, dan menuliskannya kembali agar tetap hidup. Bibliografi beranotasi ini adalah cara jitu untuk mengamati dalam tulisan dan memastikan bahwa pemikiran-pemikiran tentang pedesaan tidak hilang ditelan zaman.

====

1 Agosti, M., Giorgetta, B., & Nicola. F. 2007. A historical and contemporary study on annotations to derive key features for systems design, International Journal on Digital Libraries 8(1):1-19

====

*Peneliti dan Pegiat Sajogyo Institute. Tulisan ini dimuat dalam blog pribadinya dan telah memperoleh izin dari penulis untuk dimuat dalam tapak maya Sajogyo Institute. 

More to explorer

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

five × 3 =

KABAR TERBARU!