Wisuda Sekolah Kaki Gunung: Mencoba Menjawab Tantangan Krisis Sosial Ekologis

Share on facebook
Facebook
Share on twitter
Twitter
Share on whatsapp
WhatsApp
Share on telegram
Telegram

Pada tanggal 26 Februari kemarin, sebanyak 28 peserta Sekolah Kaki Gunung (SKG), diwisuda secara seremonial via zoom. Para peserta ini yang dinyatakan berhasil mengikuti sebagian besar agenda belajar di SKG.

Perlu diketahui, peserta yang mendaftar dan mengikuti pada awal pelaksanaan sekolah ini berjumlah 43 orang dari berbagai daerah di Indonesia. Namun, di perjalanan, banyak peserta yang dinyatakan ‘gugur’ karena belum bisa mengikuti semua rangkaian kegiatan yang telah disepakati.

Peserta SKG yang telah lulus, selanjutnya akan menjalani program magang pada lembaga-lembaga pelaksana SKG. Tidak semua lulusan SKG dapat mengikuti program magang ini, karena hanya 15 peserta yang akan dipilih nantinya.

Kelimabelas peserta yang telah diumumkan terpilih mengikuti program magang, lalu bisa memilih tempat magang di salah satu lembaga pelaksana. Saat ini, untuk lembaga Sajogyo Institute, telah ada satu orang peserta program magang dari lulusan SKG yang beraktifitas di kantor Sajogyo institute, dan akan menyusul enam peserta lainnya.

Sekilas tentang SKG, Sekolah ini lahir dari keresahan akan krisis sosial-ekologis di Indonesia yang semakin parah. Kolaborasi empat lembaga, yaitu Sajogyo Institute (SAINS), Rimbawan Muda Indonesia (RMI), Forest Watch Indonesia (FWI), dan Jaringan Kerja Pemetaan Partisipatif (JKPP) melihat bahwa krisis ini terjadi sebagai akumulasi dari sejarah panjang, sejak mulai dikenalnya moda ekonomi kapitalistik, ditandai dengan masuknya kolonialisme, kemudian terus menguat hingga saat ini.

Moda ini tidak hanya merusak tatanan ekologi sebagai ruang hidup, melainkan juga merusak relasi sosial yang kuat dalam masyarakat. Karenanya, melalui SKG, Pelaksana berharap mampu membongkar berbagai kerancuan dengan membagi macam-macam perspektif kepada peserta SKG untuk melihat banyaknya fenomena krisis yang terjadi tersebut.

Sedikitnya, ada 11 (sebelas) materi yang dipelajari pada SKG 2021. Di antaranya Kepemimpinan Inklusif, Pengantar Ekonomi dan Ekologi Politik, Sejarah Studi Agraria di Indonesia, Struktur Agraria: Relasi penguasaan lahan dan relasi produksi, Tinjauan Kritis Kebijakan Agraria di Indonesia, Politik Kebijakan Ruang, Gender dan Pengelolaan SDA, Teknik Pemetaan Aktor, Investigasi Kejahatan Lingkungan (Environmental Crime) dan Pendayagunaan Teknologi Terkini untuk Pemantauan Hutan, Pemetaan Partisipatif, Resolusi Konflik dan Analisis Tumpang Tindih Lahan, dan terakhir adalah Kampanye dan Advokasi Lingkungan. [Stoa]

More to explorer

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

seventeen − 4 =

KABAR TERBARU!